Tampilkan postingan dengan label ELEKTRO TELEKOMUNIKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ELEKTRO TELEKOMUNIKASI. Tampilkan semua postingan

Pembagian kanal FM di Indonesia

Frequensi Modulation Radio atau kita kenal sebagai Radio FM dipatenkan 26 Desember 1933 di Amerika oleh Edwin Howard Armstrong.

Melalui regulasi Federal Communications Commision (FCC) stasiun W1XOJ untuk pertama kalinya membroadcast siarannya pada tanggal 5 Januari 1937 yang didemonstrasikan langsung oleh Armstrong pada spektrum frekuensi 42-49MHz dan FCC memberi ijin frekuensi tersebut untuk pemakaian komersial, yang kemudian dibentuklah Yankee Network untuk penjualan perangkat penyiaran radio FM (sampai tahun 1945 mencapai 55 stasiun radio FM), dengan propaganda kualitas FM jauh lebih bagus (dan bisa stereo) daripada radio AM (Amplitudio Modulation) yang sudah lebih dulu dipakai.

Tahun 1945 Radio Corporation of America (RCA) mendesak FCC untuk memindahkan frekuensi FM ke yang lebih tinggi (88-108MHz) karena interferensi dengan sinyal televisi dan untuk melebarkan penggunaan frekuensi televisi sebesar 40MHz dengan menggeser frekuensi FM.

Armstrong yang memiliki paten FM gagal menggeser ke frekuensi yang lebih tinggi. RCA kemudian mengambil alih paten Armstrong yang membuat hancur Yankee Network, hingga akhirnya Armstrong bunuh diri loncat dari apartemennya, tragis! Kemudian mantan istrinya bersama sang janda Armstrong mengajukan tuntutan persidangan hingga hak paten dipulihkan kembali pada tahun 1967. FCC membagi pita 87, 8-108MHz menjadi 100 channel sehingga tiap channel lebarnya 0, 2KHz, namun istilah channel ini tak pernah dipakai secara praktis.

Di Indonesia pembagian channel radio FM berbeda, yaitu setiap channel memiliki lebar 0, 35MHz sehingga rentang 87, 8-108MHz menjadi 57 channel (57 stasiun jika terpakai semuanya).

Keputusan Direktur Jenderal Postel nomor 15 A tahun 2004 yang merupakan turunan dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 15 tahun 2003 mengubah lebar kanal dari 0, 35MHz menjadi 0, 8MHz untuk kota-kota yang belum padat stasiun radionya, kota yang sudah padat dalam jangka 10 tahun akan diciutkan jumlah stasiun radionya

Pembagian kanal FM di Indonesia

Jumlah kanal yang disiapkan dalam alokasi frekuensi 87,5 MHz hingga 108 MHz memang sebanyak 204 kanal.

Tapi, tentu saja hal itu tidak menyebabkan 204 stasiun radio bisa didirikan di kota kita. Sebab jarak antarkanal yang terlalu rapat akan menyebabkan interferensi antarstasiun radio.

Karena itu, aturan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No KM 15 Tahun 2003 mensyaratkan jarak minimal antarkanal dalam satu area pelayanan (yang umumnya se-Kota atau se-Kabupaten) adalah 800 kHz.

Kecuali pada kota besar semacam Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan yang sudah telanjur mempunyai stasiun cukup banyak. Jarak minimal untuk kota-kota itu adalah 400 kHz.

Pembagian kanal untuk tiap area layanan tentunya juga disesuaikan dengan faktor-faktor seperti : kepadatan penduduk, perkembangan kawasan, dan lainnya. Sebab, apalah gunanya menyediakan banyak kanal jika pendirian stasiun-stasiun baru di suatu area layanan tidak menjanjikan.

Multychannel Amplitude Modulation ( AM )

Yang pertama kali menyebar luaskan Aplikasi untuk hubungan antara fiber optik secara analog yang mana di mulai pada akhir tahun 1980 adalah CATV Network.

Network jenis ini beroperasi pada frekuensi antara 50 sampai 88 Mhz dan dari 120 samapi 550 Mhz. Frekuensi anatara 88 samapi 120 Mhz tidak digunaka karena digunakan untuk penyiaran radio FM.

Network ini dapat membawa lebih dari 80 AM vestigal-side band (AM-VSB) video chanel, masing-masing mempunyai noise selebar 4 Mhz dari lebar chanel yang 6 Mhz, dengan S/N ratio sebesar 40db.

Untuk mempertahankan kesamaan dengan coax base network yang sebelumnya, format dari multichanel AM-VSB juga dipilih untuk sistem fiber optik.

Sinyal informasi pada chanel I gelombang pembawa AM mempunyai frekuensi Fi , dimana

I= 1,2,…,N.

Power RF menggabungkan kemudian menjumlah AM sejumlah N, yang menghasilkan sinyal FDN, yang mana intensitas modulasinya seperti Laser Dioda.

Seperti halnya penerima optik, susunan paralel dari filter bandpass memisahkan sinyal dari gelombang cariernya, sehingga didapat sinyal aslinya, dengan teknik standar RF. Untuk sejumlah besar carier FDM dengan fasa acak, sinyal carier menumpangi power basis. Kemudian untuk N channel, modulasi optikal dengan index m berhubungan dengan modulasi index mi per channel dengan:

Jika setiap modulasi channel index mi nilainya sama dengan nilai mc, maka dirumuskan :

Hasilnya jika N sinyal adalah frekuensi yang telah di multiplex dan digunakan untuk memodulasi sumber optik tunggal maka rasio ke noise dari sinyal tunggal berkurang dengan 10 log N. Andaikata beberapa channel digabungkan maka sinyal akan memperkuat tegangan, maka karakteristik penurunan menjadi 10 log N.

Jika beberapa frekuensi carrier melewati peralatan non linier seperti laser dioda dapat membangkitkan sinyal yang berbeda dari frekuensi asalnya yang disebut juga sebagai frekuensi intermodulation, dan dapat menyebabkan interferensi pada kedua band dari channel.

Hasilnya adalah penurunan jumlah sinyal yang dapat ditransmisikan. Jika frekuensi kerja dari channel kurang dari 1 oktaf seluruh distorsi harmonis bahkan distorsi intermodulasi (IM) akan keluar dari passband. Jika signal passband mengandung banyak signal carrier. Beberapa IM akan muncul pada frekuensi pada sama.

Hal ini disebut juga staking yang merupakan tambahan dari basis power. Dimana ada dua nada orde ketiga tersebar pada daerah operasi passband. Tripel beat product dibuat untuk dikonsentrasikan pada tengah – tengah channel, jadi pembawa pusat menerima inteferensi yang paling besar.

Hasil dari beat stcaking adalah secara umum pada CSO ( Composite Second Order ) dan CTB ( Composite Tripel Beat ) dan digunakan untuk menggunakan kemampuan dari multichannel hubungan AM

Konfigurasi Jaringan VoDSL

Alternatif Meningkatkan Teledensitas Telepon
Jaringan VoDSL terdiri dari beberapa perangkat utama, yaitu digital subscriber line access multiplexer (DSLAM) dan voice gateway yang ditempatkan pada sisi sentral telepon serta IAD yang berada di sisi pelanggan.

DSLAM berfungsi sebagai pengolah sinyal digital agar bandwidth saluran telepon yang terbuat dari kabel tembaga dapat dioptimalkan sehingga dapat melewatkan data berkecepatan tinggi. Selain itu mengatur lalu lintas data dari jaringan (cloud) internet melalui penyedia jasa internet-internet service provider (ISP)-untuk kemudian diteruskan ke pelanggan ADSL dan sebaliknya. DSLAM biasanya juga dilengkapi dengan POTS splitter untuk memisahkan alokasi kanal data dan suara (analog). Antara DSLAM dan ISP terdapat broadband remote access server (BRAS) yang terhubung dengan jaringan ATM.

Trafik suara VoDSL terhubung dari jaringan ATM (asynchronous transfer mode) ke sentral telepon (PSTN) melalui perangkat voice gateway (VGW). Mode transfer yang direkomendasikan DSL Forum dan ATM Forum adalah ATM Adaption Layer 2 (AAL 2).

AAL 2 merupakan teknik terbaru yang dirancang untuk mendukung penggabungan aliran paket real time melalui ATM virtual circuit connection (VCC). Suara dikirimkan ke IAD di sisi pelanggan melalui jaringan paket. IAD digunakan untuk me-mixing suara dan data. Umumnya pada perangkat IAD tersedia port ethernet atau port ATM untuk data dan sejumlah port suara untuk saluran telepon analog.

VGW merupakan jaringan akses digital jika dilihat dari sisi sentral lokal. Karena itu, koneksi antara gateway dan sentral lokal menggunakan standar antarmuka jaringan, yaitu V5.2. Antarmuka jaringan V5.2 digunakan negara-negara yang menggunakan standar telekomunikasi Eropa atau GR-303 dan TR-08 di Amerika Utara dan sekitarnya.

VoDSL menggunakan kelebihan bandwidth xDSL secara dinamis. Artinya saluran suara hanya akan mengonsumsi bandwidth ketika terjadi percakapan. Jika sedang tidak digunakan untuk menelepon (tidak aktif), bandwidth xDSL dapat digunakan untuk layanan lainnya, seperti akses internet. Karena itu, VoDSL harus memakai bandwidth xDSL yang terbatas secara efektif.


Persyaratan

Untuk mengimplementasikan VoDSL, ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan oleh operator. Suara yang dihasilkan haruslah sama atau minimal mendekati kualitas suara telepon biasa. Artinya, suara tersebut harus jernih dan tidak boleh terlambat (delay) agar tidak terjadi efek echo (menggema).

Untuk itu VoDSL dipersyaratkan memiliki tingkat keandalan yang tinggi (99,999 persen), terutama karena suara yang dihasilkan VoDSL dikirimkan menggunakan paket data. Untuk kenyamanan pelanggan layanan VoDSL juga harus menyediakan pilihan koneksi dengan semua jenis terminal telepon dan perangkat sentral lokal seperti private automatic branch exchange (PABX) atau key system telephone.

Cara pemakaian telepon yang menggunakan teknologi VoDSL tidak ada perbedaan sama sekali dengan telepon biasa karena terminal telepon yang digunakan sama seperti yang kita pakai sehari-hari.

Penerapan VoDSL memberikan keuntungan baik bagi pelanggan maupun operator. Pelanggan akan memiliki keleluasaan untuk mendapatkan penambahan saluran telepon kapan saja jika menghendaki. Tidak perlu seorang pelanggan menunggu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sekadar untuk mendapatkan saluran telepon tambahan.
Di samping itu, pelanggan bisa menikmati layanan suara dan data berkecepatan tinggi dengan harga yang ekonomis.

Solusi telekomunikasi ini sangat sesuai untuk usaha kecil menengah atau segmen residensial kelas atas (high residential).

Bagi operator, di samping meningkatkan teledensitas telepon, VoDSL bisa menjadi sumber pendapatan baru karena berpotensi menjadi aplikasi yang disukai konsumen (killer application). Investasi VoDSL terhitung rendah karena hanya menambahkan beberapa perangkat pendukung pada jaringan xDSL yang sudah ada sekaligus menghemat biaya penggelaran jaringan akses tembaga.

Operator juga bisa memakai VoDSL sebagai alat untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Ini karena untuk mendapatkan layanan bundling data dan suara pelanggan tidak perlu berpindah operator.

Perbedaan VoDSL dengan ADSL

Seperti halnya telepon eksisting yang terdapat pada ADSL konvensional, saluran telepon VoDSL tetap bisa digunakan untuk melakukan percakapan telepon, walaupun kita sedang melakukan akses internet.

Namun, ada sedikit perbedaan cara kerja antara saluran telepon pada ADSL konvensional dan teknologi VoDSL. Gambar 1 mengilustrasikan perbedaan tersebut. Saluran telepon yang terbuat dari kabel tembaga tersebut bisa digambarkan sebagai pipa tunggal yang berisi dua pipa kecil.

Pada ADSL konvensional, pipa pertama digunakan untuk mengalirkan data berkecepatan tinggi yang terhubung ke komputer (PC).

Pipa kedua merupakan saluran telepon eksisting untuk melakukan percakapan telepon biasa (plain old telephone system/POTS). Namun, karena pipa POTS ini masih analog, ia hanya bisa digunakan untuk satu saluran telepon saja (1 sst).

Pada saluran ADSL yang telah menggunakan teknologi VoDSL terdapat sebuah perangkat IAD (integrated acces device) pada sisi pelanggan yang berfungsi mengumpulkan dan mengatur trafik, baik dari komputer, telepon analog (POTS), maupun telepon VoDSL.

Jumlah saluran telepon VoDSL bisa lebih dari satu, bahkan hingga 16 saluran (SST), bergantung pada bandwidth yang tersedia pada pipa digital terebut.

Di samping saluran telepon tambahan dari VoDSL, seperti halnya pada ADSL konvensional, pelanggan masih tetap dapat melakukan percakapan melalui saluran telepon eksisting (POTS).

Teori Modulasi Frekuensi (FM)

Baik FM (Frekuensi Modulation) maupun PM (Phase Modulation) merupakan kasus khusus dari modulasi sudut (angular modulation).

Dalam sistem modulasi sudut frekuensi dan fasa dari gelombang pembawa berubah terhadap waktu menurut fungsi dari sinyal yang dimodulasikan (ditumpangkan).

Misal persamaan gelombang pembawa dirumuskan sebagai berikut :

c)Uc = Ac sin (wc +

Dalam modulasi amplitudo (AM) maka nilai ‘Ac‘ akan berubah-ubah menurut fungsi dari sinyal yang ditumpangkan. Sedangkan dalam modulasi c‘.
Jikasudut yang diubah-ubah adalah salah satu dari komponen ‘wc + yang diubah-ubah adalah komponen ‘wc‘ maka disebut Frekuensi Modulation c‘ yang diubah-ubah maka disebut Phase(FM), dan jika komponen ‘ Modulation (PM).

Jadi dalam sistem FM, sinyal modulasi (yang ditumpangkan) akan menyebabkan frekuensi dari gelombang pembawa berubah-ubah sesuai perubahan frekuensi dari sinyal modulasi.

Sedangkan pada PM perubahan dari sinyal modulasi akan merubah fasa dari gelombang pembawa. Hubungan antara perubahan frekuensi dari gelombang pembawa, perubahan fasa dari gelombang pembawa, dan frekuensi sinyal modulasi dinyatakan sebagai indeks modulasi (m) dimana :

m = Perubahan frekuensi (peak to peak Hz) / frekuensi modulasi (Hz)

Dalam siaran FM, gelombang pembawa harus memiliki perubahan frekuensi yang sesuai dengan amplituda dari sinyal modulasi, tetapi bebas frekuensi sinyal modulasi yang diatur oleh frekuensi modulator.

Multichannel Frequency Modulation ( FM )

Penggunaan signal AM-VSB untuk mengirim beberapa channel analog adalah prinsip lurus kedepan dan sederhana. Bagaimana pun juga hal itu memiliki syarat C/N paling tidak 40 dB untuk setiap channel AM dimana antara laser dan penerimanya harus garis lurus.

Cara lain adalah denga menggunakan modulaasi frekuensi ( FM ) dimana setiap subcarrier dimodulasi oleh frekuensi dengan signal informasi, namun hal ini membutuhkan bandwide lebih besar sekitar 7 – 8 kali dari AM. Rasio S/N dari output detector FM jauh lebih besar dari rasio C/N pada input dari detector.

Rasio dari s/n tergantung pada desain sistem tetapi umumnya berada pada 36-44 db
Di antara keuntungan FM adalah bebas dari pengaruh gangguan udara, bandwidth (lebar pita) yang lebih besar, dan fidelitas yang tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :

Lebih tahan noise
Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 – 108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh penurunan daya hampir tidak berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line Of Sight).

Bandwith yang Lebih Lebar
Saluran siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita) saluran siar AM. Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan adanya efek-efek (deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar dibanding distribusi linear yang sederhana dari sideband-sideband dalam sistem AM. Band siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari spektrum frekuensi di mana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada gelombang dengan panjang medium (MW) pada band siar AM.

Fidelitas Tinggi
Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (paling tidak pada interval 50 Hz sampai 15 KHz), distorsi (harmonik dan intermodulasi) dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang sangat rendah, dan respon transien yang bagus sangat diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan radio dengan noise rendah. Karakteristik yang lain hanyalah ditentukan oleh masalah rancangan perangkatnya saja.

Transmisi Stereo
Alokasi saluran yang lebar dan kemampuan FM untuk menyatukan dengan harmonis beberapa saluran audio pada satu gelombang pembawa, memungkinkan pengembangan sistem penyiaran stereo yang praktis. Ini merupakan sebuah cara bagi industri penyiaran untuk memberikan kualitas reproduksi sebaik atau bahkan lebih baik daripada yang tersedia pada rekaman atau pita stereo. Munculnya compact disc dan perangkat audio digital lainnya akan terus mendorong kalangan industri peralatan dan teknisi siaran lebih jauh untuk memperbaiki kinerja rantai siaran FM secara keseluruhan.

Hak komunikasi Tambahan
Bandwidth yang lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data atau audio tambahan, sering disebut Subsidiary Communication Authorization (SCA), bersama dengan transmisi stereo. Saluran SCA menyediakan sumber penerimaan yang penting bagi kebanyakan stasiun radio dan sekaligus sebagai media penyediaan jasa digital dan audio yang berguna untuk khalayak.

Pemancar FM

Pemancar FM
Tujuan dari pemancar FM adalah untuk merubah satu atau lebih sinyal input yang berupa frekuensi audio (AF) menjadi gelombang termodulasi dalam sinyal RF (Radio Frekuensi) yang dimaksudkan sebagai output daya yang kemudian diumpankan ke sistem antena untuk dipancarkan. Dalam bentuk sederhana dapat dipisahkan atas modulator FM dan sebuah power amplifier RF dalam satu unit.

Sebenarnya pemancar FM terdiri atas rangkaian blok subsistem yang memiliki fungsi tersendiri, yaitu:

1. FM exciter merubah sinyal audio menjadi frekuensi RF yang sudah termodulasi

2. Intermediate Power Amplifier (IPA) dibutuhkan pada beberapa pemancar untuk meningkatkan tingkat daya RF agar mampu menghandle final stage

3. Power Amplifier di tingkat akhir menaikkan power dari sinyal sesuai yang dibutuhkan oleh sistem antena

4. Catu daya (power supply) merubah input power dari sumber AC menjadi tegangan dan arus DC atau AC yang dibutuhkan oleh tiap subsistem

5. Transmitter Control System memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap subsistem sehingga mereka dapat bekerja sama dan memberikan hasil yang diinginkan

6. RF lowpass filter membatasi frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar

7. Directional coupler yang mengindikasikan bahwa daya sedang dikirimkan atau diterima dari sistem antenna


Pemancar FM : ELEKTRO TELEKOMUNIKASI

FM Exciter

FM Exciter
Jantung dari pemancar siaran FM terletak pada exciter-nya. Fungsi dari exciter adalah untuk membangkitkan dan memodulasikan gelombang pembawa dengan satu atau lebih input (mono, stereo, SCA) sesuai dengan standar FCC. Gelombang pembawa yang telah dimodulasi kemudian diperkuat oleh wideband amplifier ke level yang dibutuhkan oleh tingkat berikutnya.

Direct FM merupakan teknik modulasi dimana frekuensi dari oscilator dapat diubah sesuai dengan tegangan yang digunakan. Seperti halnya oscilator, disebut voltage tuned oscilator (VTO) dimungkinkan oleh perkembangan dioda tuning varaktor yang dapat merubah kapasitansi menurut perubahan tegangan bias reverse (disebut juga voltage controlled oscillator atau VCO).

Kestabilan frekuensi dari oscillitor direct FM tidak cukup bagus, untuk itu dibutuhkan automotic frekuensi control system (AFC) yang menggunakan sebuah kristal oscillator stabil sebagai frekuensi referensi. Komponen AFC berperan sebagai pengatur frekuensi yang dibangkitkan oscillator lokal untuk dicatukan ke mixer, sehingga frekuensi oscillator menjadi stabil.

FM Exciter : ELEKTRO TELEKOMUNIKASI

Sinyal “carrier”

Sinyal “carrier”
Gelombang/sinyal carrier adalah gelombang radio yang mempunyai frekuensi jauh lebih tinggi dari frekuensi sinyal informasi. Berbeda dengan sinyal suara yang mempunyai frekuensi beragam/variabel dengan range 20 Hz hingga 20 kHz, sinyal carrier ditentukan pada satu frekuensi saja. Frekuensi sinyal carrier ditetapkan dalam suatu alokasi frekuensi yang ditentukan oleh badan yang berwewenang.

Di Indonesia, alokasi frekuensi sinyal carrier untuk siaran FM ditetapkan pada frekuensi 87,5 MHz hingga 108 MHz. Alokasi itu terbagi untuk 204 kanal dengan penganalan kelipatan 100 kHz.

Kanal pertama berada pada frekuensi 87,6 MHz, sedangkan kanal ke 204 berada pada frekuensi 107,9 MHz. Penetapan tersebut dan aturan lainnya tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 15 Tahun 2003.

Frekuensi carrier inilah yang disebutkan oleh stasiun radio untuk menunjukkan keberadaannya. Misalnya, Radio XYZ 100,2 FM atau Radio ABC 98,2 FM. 100,2 Mhz dan 98,2 MHz adalah frekuensi carrier yang dialokasikan untuk stasiun bersangkutan.
Karena berupa gelombang sinusoida, sinyal carrier mempunyai beberapa parameter yang dapat berubah.

Perubahan itu dapat terjadi pada amplitudo, frekuensi, atau parameter lain. Contoh perubahan amplitudo dan perubahan frekuensi dari suatu sinyal asal ditunjukkan dalam gambar. Kemampuan untuk diubah inilah yang menjadi ide dari teknik-teknik modulasi

Sinyal “carrier” : ELEKTRO TELEKOMUNIKASI

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons